
Mahasiswa Informatika Telkom University Gelar Edukasi Literasi AI di SMK Telkom Bandung Lewat Praktik “Pelatihan AI untuk akademisi”
Rabu, 6 Mei 2026. Empat mahasiswa Program Studi S-1 Informatika Telkom University datang ke SMK Telkom Bandung bukan untuk mengajar pelajaran biasa. Kami bertujuan untuk mengubah cara pandang siswa kelas 10 terhadap Kecerdasan Artifisial (AI), menggeser peran AI dari sekadar penyedia jawaban instan menjadi sarana kolaborasi yang terarah. Kegiatan yang mengusung tema “Mengenal AI: Cara Kerja, Trik Prompting, dan Aturan Pakainya” ini merupakan bagian dari program Informatika untuk Masyarakat (IUM), sebuah inisiatif pengabdian yang rutin dijalankan oleh mahasiswa. Kelompok IUM26-104 ini diketuai oleh Adrian Maulana yang bertindak sebagai (pemateri 1), bersama Muhammad Ihsan Firjatulloh Al-Khasaf (pemateri 2), Haikal Zaki Avansyah (pemateri 3), dan Muhammad selaku (moderator). Selain menjalankan perannya masing-masing di depan kelas, keempat mahasiswa ini juga bahu-membahu merangkap tugas dokumentasi.
Seluruh rangkaian kegiatan ini berjalan di bawah bimbingan dosen Bintang Vieshe Mone, M.Kom…, dosen dari kelompok keahlian Data Science and Intelligent Systems. Pelajar saat ini, khususnya di institusi kejuruan, sudah sangat akrab dengan ekosistem digital. Namun, di balik kemudahan akses teknologi tersebut, terdapat tantangan besar yang jarang disadari: rendahnya literasi AI. Banyak siswa menganggap AI sebagai entitas sempurna, padahal sistem tersebut sering menghasilkan informasi bias dan rentan terhadap fenomena hallucination (halusinasi). Lebih jauh lagi, kebiasaan menyalin-tempel perintah singkat tanpa konteks (prompting yang buruk) serta penggunaan AI untuk kecurangan akademis telah menjadi masalah nyata di lingkungan pendidikan. Kegiatan kami dimulai pada pukul 13:30 WIB. Tim IUM26-104 memilih untuk langsung mengajak peserta menyelami materi menggunakan pendekatan participatory learning, menempatkan siswa sebagai subjek aktif sejak menit pertama. Untuk menjaga interaksi tetap hidup, di setiap materi selalu disisipkan pertanyaan singkat. Siswa yang berani menjawab langsung mendapatkan apresiasi berupa hadiah permen cipacup, yang sukses membuat suasana kelas menjadi sangat interaktif.
Selama seluruh rangkaian kegiatan berlangsung, Muhammad bertugas sebagai moderator yang memegang kendali jalannya acara. Ia memandu ritme diskusi, membuka kegiatan, mengatur transisi antar materi, serta memastikan acara berlangsung dengan tertib hingga penutupan. Materi pertama membahas dasar-dasar kecerdasan buatan. Adrian Maulana menjelaskan pengertian AI, prinsip kerjanya yang memanfaatkan data dan probabilitas untuk menghasilkan respons, serta berbagai keterbatasan yang dimiliki teknologi tersebut. Pembahasan ini bertujuan agar siswa tidak menganggap AI sebagai teknologi yang selalu benar atau mampu menyelesaikan segala permasalahan, sehingga mereka dapat menggunakan AI secara lebih kritis dan bijak. Selain itu, dijelaskan pula bahwa AI “belajar” melalui proses pelatihan menggunakan data dalam jumlah besar, serta bagaimana mekanisme AI bekerja dalam menghasilkan jawaban berdasarkan pola yang telah dipelajarinya. Materi kedua membahas teknik Prompt Engineering yang dibawakan oleh Haikal Zaki Avansyah.
Pada sesi ini, peserta diperkenalkan dengan cara menyusun prompt yang efektif untuk memperoleh hasil yang lebih relevan dan sesuai kebutuhan. Melalui berbagai contoh dan praktik langsung, siswa diajak membandingkan hasil yang diberikan AI ketika menerima instruksi yang sederhana dengan instruksi yang lebih jelas dan terstruktur. Selain itu, siswa mempelajari pentingnya memberikan konteks yang spesifik, menentukan tujuan yang jelas, serta mengatur format keluaran yang diinginkan. Dengan pemahaman tersebut, peserta dapat memanfaatkan AI secara lebih optimal sebagai alat bantu belajar dan bekerja, bukan sekadar mengajukan pertanyaan tanpa arahan yang tepat. Materi ketiga dibawakan oleh Muhammad Ihsan Firjatulloh dengan fokus pada etika penggunaan AI. Pada sesi ini, peserta diajak memahami pentingnya menggunakan AI secara bertanggung jawab dan bijak. Berbagai isu yang dekat dengan kehidupan sehari-hari siswa dibahas, seperti plagiarisme, penyebaran informasi yang tidak terverifikasi, manipulasi konten digital, serta batasan penggunaan AI dalam mengerjakan tugas sekolah. Melalui diskusi dan studi kasus sederhana, siswa diajak untuk menilai dampak positif maupun negatif dari penggunaan AI serta mempertimbangkan aspek etika dalam setiap pemanfaatannya. Dengan demikian, peserta diharapkan mampu memanfaatkan AI sebagai alat bantu yang mendukung proses belajar tanpa mengabaikan integritas dan tanggung jawab akademik.
Di penghujung acara, evaluasi pemahaman peserta tidak dilakukan lewat lembaran kertas, melainkan langsung dieksekusi melalui post-test interaktif menggunakan platform Kahoot!. Persaingan memperebutkan posisi juara 1, 2, dan 3 berlangsung seru dengan hadiah menarik yang disiapkan oleh panitia. Cara sederhana ini terbukti ampuh memastikan fokus peserta tidak turun justru di penghujung acara, saat evaluasinya paling penting. Melalui edukasi ini, diharapkan pemahaman siswa SMK Telkom Bandung mengenai teknologi kecerdasan artifisial dapat meningkat secara komprehensif. Dengan keterampilan teknis prompting yang mumpuni dan landasan integritas digital yang kuat, mereka siap bertransformasi menjadi individu yang kritis dan bertanggung jawab di era kecerdasan artifisial